Sabtu, 27 Desember 2025

Duka

​Dua hari berturut-turut, aku pergi ke rumah duka mengunjungi dua teman yang sedang berduka.

Dua-duanya perempuan, dan dua-duanya kehilangan ibu mereka.

Kebetulan hal yang mirip ini terjadi dalam waktu berdekatan. Kebetulan juga bulan Desember ini, adalah bulan hari Ibu.

Tapi dalam postingan ini, aku akan berbagi tentang kedukaan, bukan tentang ibu.

Dalam suasana duka, tidak perlu aku jelaskan, yang ada adalah kesedihan. Mungkin karena kehilangan, ketidakrelaan, atau penyesalan. Sementara bagi kita yang melayat, sejujurnya yang bisa lakukan untuk keluarga yang berduka hanyalah hadir.

Semua kata penghiburan, pelukan, tepukan di bahu, hanya upaya menyumbang sedikit kekuatan bagi mereka melalui masa yang tidak mudah ini. Belum tentu pula upaya ini berdampak. Namun hadir tentu jauh lebih baik daripada tidak.

Apalagi kalau yang meninggal adalah keluarga dekat, yaitu orang tua, pasangan, ataupun anak. Kesedihan yang ada tidak tergantikan dengan kata-kata.

Tapi, bagaikan sebuah kisah, rumah duka hanyalah paragraf pembuka dari sebuah bab baru. Bab itu dan seterusnya adalah lanjutan cerita yang telah kehilangan salah satu pemerannya.

Dan kesedihan mendalam dan rasa kehilangan yang sesungguhnya, baru dimulai dari paragraf kedua.

Mungkin akan ada saatnya kesedihan dan kehilangan ini mereda. Tapi pada beberapa orang, bisa juga rasa sakitnya terus bertahan. Bagi mereka, semoga bisa menemukan cara untuk membuka simpul hatinya dan meneruskan kehidupannya.

Tidak ada komentar: