Sabtu, 27 Desember 2025

Duka

​Dua hari berturut-turut, aku pergi ke rumah duka mengunjungi dua teman yang sedang berduka.

Dua-duanya perempuan, dan dua-duanya kehilangan ibu mereka.

Kebetulan hal yang mirip ini terjadi dalam waktu berdekatan. Kebetulan juga bulan Desember ini, adalah bulan hari Ibu.

Tapi dalam postingan ini, aku akan berbagi tentang kedukaan, bukan tentang ibu.

Dalam suasana duka, tidak perlu aku jelaskan, yang ada adalah kesedihan. Mungkin karena kehilangan, ketidakrelaan, atau penyesalan. Sementara bagi kita yang melayat, sejujurnya yang bisa lakukan untuk keluarga yang berduka hanyalah hadir.

Semua kata penghiburan, pelukan, tepukan di bahu, hanya upaya menyumbang sedikit kekuatan bagi mereka melalui masa yang tidak mudah ini. Belum tentu pula upaya ini berdampak. Namun hadir tentu jauh lebih baik daripada tidak.

Apalagi kalau yang meninggal adalah keluarga dekat, yaitu orang tua, pasangan, ataupun anak. Kesedihan yang ada tidak tergantikan dengan kata-kata.

Tapi, bagaikan sebuah kisah, rumah duka hanyalah paragraf pembuka dari sebuah bab baru. Bab itu dan seterusnya adalah lanjutan cerita yang telah kehilangan salah satu pemerannya.

Dan kesedihan mendalam dan rasa kehilangan yang sesungguhnya, baru dimulai dari paragraf kedua.

Mungkin akan ada saatnya kesedihan dan kehilangan ini mereda. Tapi pada beberapa orang, bisa juga rasa sakitnya terus bertahan. Bagi mereka, semoga bisa menemukan cara untuk membuka simpul hatinya dan meneruskan kehidupannya.

Rabu, 01 Oktober 2025

Seorang Sahabat yang Pergi Terlalu Cepat

Catatan yang belum selesai, dari 9 Maret 2021 

Yang aku ingat dari kamu, adalah kamu punya gigi yang salah tumbuh. Satu gigi "ekstra" tepat di belakang gigi seri atas.
Yang aku ingat dari kamu, adalah bahumu yang lebar, meski perutmu sudah pernah kulihat rata dan buncit bergantian.

Aku ingat matamu yang besar dan bulat, dan tatapan yang meninggalkan kesan. Pipi dengan bekas jerawat, poni yang menjuntai ke satu sisi, aku lupa kanan atau kiri.
Aku ingat jemarimu yang panjang, yang sering menempel di tuts Macbook seken yang layarnya sudah agak kekuningan.

Sebelum membeli Macbook ini, kamu begitu tergila-gila pada label apel ini, merasa harus punya supaya bisa memenuhi hasrat desainmu.

Ingatan tentangmu selalu konyol, dan membuatku tersenyum. Bukan cuma aku, tapi mereka yang kenal kamu, pasti begitu.
Meski menyebalkan sekaligus membuat heran, kami selalu bisa menerimamu dengan segala keanehan dan kelakuan tidak masuk akalmu.

Seharusnya itu karena kamu begitu jelas dengan apa yang kamu mau, kamu begitu kuat memegang impianmu, mempertaruhkan segalanya untuk menghidupkannya, sungguh-sungguh menyerahkan hidupmu untuknya.

Apakah kamu sudah buat terlalu jauh? Apakah kamu bahkan menukar umurmu untuk itu? Berita kepergianmu tidak mengagetkan, apalagi kamu sudah berjuang melawan sakit begitu panjang. Tapi tetap saja, berita ini rasanya terlalu cepat datang.

Selamat jalan, karya besarmu sudah kamu wariskan. Kelak, entah apakah penikmat karyamu masih akan mengingat dirimu. Tapi dalam ingatanku, bintangmu tetap terang bersinar.

Pemimpin

Dulu sekali, pernah baca satu artikel yang judulnya Pemimpi(n). Sudah lupa isinya, dan bukan itu juga yang ingin aku ceritakan di sini.

Tulisan ini benar-benar tentang "pemimpin" di dalam kepala kecilku.

Suatu kali, seorang teman sedang getol membahas tentang pemimpin atau kepemimpinan. Mungkin ia merasa jiwanya dalam hal itu sedang berkembang pesat. Aku tak tau, karena aku tak pernah dipimpin olehnya.

Tapi aku jadi terpancing ingin ikut berbagi pendapatku tentang pemimpin.

Pemimpin sesungguhnya bukan sesuatu yang bisa ditirukan, bukan pula sesuatu yang bisa diciptakan, apalagi dicitrakan. Anda bisa belajar tentang kepemimpinan, tapi itu tidak menjamin, Anda akan bisa menjadi pemimpin.

Pemimpin atau kepemimpinan, ada di dalam jiwa kita. Barangkali, itu adalah panggilan jiwa. Atau... itu baru bisa bangkit, kalau kita berani menjawab panggilan nurani kita. Meski bayarannya adalah diri dan hidup kita.

Alkisah seorang pelayan yang baik, memiliki seorang pemimpin yang kurang baik. Sebagai pelayan yang baik, ia menjalankan perintah pemimpinnya dengan sebaik-baiknya. Sehingga ia pun dinobatkan menjadi pelayan terbaik. Setelah itu, diangkatlah ia menjadi pemimpin bagi pelayan-pelayan lainnya. Dan akhirnya pelayan tadi mulai menganggap dirinya kini adalah seorang pemimpin. Namun, sesungguhnya ia tetaplah seorang pelayan. Ialah pelayan yang membawa pelayan-pelayan lain, mengabdi pada kepentingan di atasnya, bukan panggilan jiwanya. Pelayan tadi baru benar-benar menjadi pemimpin di saat ia sungguh-sungguh mendengar suara hatinya yang bisa jadi berlawanan dengan instruksi atasannya.

Pemimpin sejati, mendengar hatinya, menetapkan arah langkahnya, meski semua orang di sekitar berjalan ke arah sebaliknya, meski semua orang di sekitar mempertanyakan keputusannya.

Pemimpin sejati, ia mengambil resiko, ia akan dan pasti lelah, barangkali pun ia menjadi sendirian. Tapi beginilah konsekuensi untuk menjadi seorang pemimpin yang sesungguhnya.

Sabtu, 27 Agustus 2016

Hidup Kita

Mungkin seperti sejumlah orang lain, aku pun sering berpikir tentang mengapa kita hidup, dan untuk apa aku hidup. Jawaban yang kudapat dari hasil pikiranku sendiri seringkali berubah-ubah. Sekarang ini, aku sampai di titik bahwa tak perlu meributkan alasan dari hidup itu. Hidup, pada kenyataannya sudah jadi milik kita, bagaimana masalah kita sekarang adalah: bagaimana mau memanfaatkannya?

Alasan tentang munculnya kehidupan, seolah membahas sesuatu "sebab" yang ada di luar diri kita, dan karenanya di luar kendali/kuasa kita. Sementara bagaimana menciptakan sebuah kehidupan, sudah jelas dan tentu ada di tangan kita.

Kamis, 02 Agustus 2012

Kita


Bila saatnya tiba,
Aku dan Kamu menjadi Kita,
Semoga tak hanya Kita demi Kita,
Tapi juga Kita demi Mereka.

Bila saatnya tiba,
Aku dan Kamu menjadi Kita,
Semoga semuanya ikut berbahagia,
Sebagaimana kita akan mengusahakannya.

Bila saatnya tiba,
Aku dan Kamu menjadi Kita,
Semoga adalah jalinan karma,
Untuk terus saling topang dalam Dharma.

 *kata-kata ini sempat berputar di kepalaku suatu waktu, saat kita berboncengan menuju sesuatu. Belum utuh, sebagaimana kita saat itu. Dan ketika saatnya tiba, aku senang bisa melengkapinya.

Selasa, 22 Juni 2010

Saat-saat Hijau Kita

Saat lagu-lagu D’Cinnamon terdengar dari earphone...

Entah kenapa... ada rasa rindu yang merayapi hati.

Tentang hari-hari kita dulu.
Tentang masa ketika kita sama-sama begitu hijau dan polos menantang dunia.
Kisah perjuangan ini, adalah jalan yang sepi.
Namun hati kita terikat begitu erat satu dan yang lainnya.
Mungkin ikatan ini bahkan sudah ada sebelum kita tercipta.

Entah kenapa... rasanya ingin mengalirkan air mata.

Tapi untuk alasan apa?
Tampaknya karena rasa haru mengenang semuanya.
Tampaknya karena rasa syukur pernah mengalami ini bersama.
Tampaknya karena benar-benar rindu mengulang usia.
Tapi pasti bukan karena sesal di dada.

Entah kenapa... benar-benar ingin berkumpul kembali.

Meski dengan kondisi dan masalah yang berbeda.
Yang penting menjadi tak penting lagi.
Dan yang dulu jauh dari penting kini menjadi yang terpenting.
Inilah akibat dari berlalunya waktu, yang telah mengubah kita.

Teruslah bersama, kali ini sebagai manusia-manusia dewasa.


Selasa, 17 Juni 2008

Teman, ke mana jalanmu?

Malam itu, kami baru menyelesaikan rapat untuk menerbitkan majalah perkumpulan kami. Berlima, kami semua lelah. Pagi sampai siang, semua punya urusan kantor masing-masing. Perkumpulan cuma sampingan, sampingan yang serius dan memeras otak. Kita semua masih muda. Okelah, yang paling sepuh paling-paling juga awal 30 tahun. Soal semangat, jangan ditanya, apalagi idealisme. Mungkin kita gak bisa hidup tanpa itu, catat: untuk saat ini. Jam demi jam sering aku ikuti dengan mereka bicara soal bangsa, soal cita-cita, soal mimpi yang pelan mulai kami lihat wujudnya. Soal grassroot yang semakin menyerabut, tak kuat mencengkeram dasar pendirian kaum muda.

Tiba waktu untuk pulang. Empat dari kami keluar dari pintu. Satu lainnya adalah si pemilik rumah, calon ibu yang semua anggota badannya bengkak seukuran 2 kali lipat semula. Tinggal menunggu vonis tanggal melahirkan. Empat lainnya adalah aku, Jay, Iwan, dan Ing. Aku dan Ing sudah lama menjalin kedekatan. Kami berdua pulang dengan motor hitam Ing. Aku membonceng tentu saja. Lalu, Jay dan Iwan? "Aku pulang naik busway," kata Iwan. "Aku juga, kita bareng aja," ini Jay yang bicara. Tanpa melambaikan tangan, mereka langsung jalan. Mungkin takut kehabisan, pikirku.

Aku dan Ing keluar di Jalan Gajahmada, kami harus berputar untuk menuju Harmoni. Di perempatan Plaza Gajahmada, aku lihat Jay dan Iwan menyeberang jalan. Mereka tidak melihat kami. Ing juga tidak melihat mereka. Aku, merekam gambar 2 sosok itu dalam benak, dan pikiranku mulai melayang dalam kepedihan dalam diam.

Jay dan Iwan, adalah pimpinan dalam perkumpulan kami. Secara struktur mereka sudah selesai menjabat, tapi dalam hati dan hidup kami mereka masih seorang pemimpin. Jay punya perhatian dan kesabaran luas untuk mengayomi semua anggotanya. Dia bahkan tau sampai urusan pribadi dan kerisauan yang dirasakan per orang. Dan dia menjadikan kerisauan itu, miliknya juga. Iwan, aku cuma bisa bilang cemerlang. Belum sampai setahun lalu, sewaktu Iwan menyampaikan sambutan, berkali-kali ia dipuji oleh seorang menteri yang hadir dalam acara kami itu. Kata-katanya terus dikutip oleh sang menteri.

Bolehkah kusebut dua orang ini adalah luar biasa? Tapi saat ini, apa yang mereka punya? Untuk pulang dari rapat saja mereka tidak memegang kuasa. Begitu sederhana, dan merakyat. Jay dan Iwan bukan dari keluarga yang serba kurang. Kalau mau, usaha keluarga siap diserahkan pada mereka. Bukan tidak bisa, tapi ini soal memilih jalan hidup. Mereka tak menuntut kemudahan juga kemewahan. Mereka hanya ingin keadaan berjalan lebih baik dan lebih benar.

Belum lama ini aku bertemu seorang pemuda yang juga seorang organisatoris. Dengan bangga dia bilang baru saja makan malam dengan seorang gubernur. Kubilang, bagus. Tekuni saja, siapa tau bisa menjadi celah untuk perubahan positif dalam rakyat. Tapi, dia menolak. "Aku ga tertarik masuk politik." Hmm....lanjut kubertanya, "Jadi kedekatan dengan pejabat ini untuk apa? Apa untuk bisnis?" "Nah, itu kamu tahu!" Pemuda ini sudah berkecimpung di usaha percetakan. Dia jelas tak pusing untuk pulang ke Bekasi, sebab dia menyetir sebuah mobil, yang aku ditawari untuk menumpang malam itu.

Jay dan Iwan, berharga seribu kali lipat dari pemuda ini, di mataku, di seluruh diriku. Aku tak menyalahkan pemuda itu, semua orang punya pilihan. Begitu juga aku kan? Bagiku, kalau kita punya kesempatan untuk berkiprah demi kebaikan, meski itu berarti pengorbanan, itu artinya cukup alasan. Itu artinya layak dilakukan.

Jumat, 23 Mei 2008

"Sori, aku harus pergi"

Belakangan ini di kantor sedang banyak orang yang memilih ‘pergi’. Maksudnya mengundurkan diri. Banyak alasan yang jadi penyebabnya, tapi kebanyakan karena mereka ingin bekerja di tempat lain. Di antara mereka ada J yang akan kerja di satu perusahaan kosmetik, trus ada R yang bakal jadi assprod di program TV nasional, juga T yang katanya pengen buka usaha sendiri. Tanggal 30 bulan ini, bakal jadi last day mereka ceklok absen di kantor ini.

Sementara sekarang, 8 hari sebelum itu, kira-kira apa ya yang mereka rasakan dan pikirkan? Misalnya aku, pasti udah sulit buat konsen, pikiran bercabang antara selesaikan tugas-tugas di sini dan menyusun rencana-rencana di kantor baru. Harapan pasti banyak, semoga di sana suasana lebih nyaman, teman-temannya lebih asyik, kerjaannya lebih oke, dst. Trus klo kerjaan di sini sudah dipindah tangan semua, masa menunggu hari-hari terakhir pasti membosankan sekali. Tetap harus setor muka di kantor sampai akhir bulan, padahal sudah tidak ada yang harus dikerja’in. Belum lagi bagaimana harus interaksi dengan teman-teman kantor lama padahal tau sebentar lagi akan ninggal’in mereka ‘membusuk’ di tempat sekarang sewaktu kita sendiri melenggang pergi.

Kayaknya sulit aku memahami soalnya kantor ini tempat pertama aku kerja. Tapi pengalaman ditinggalkan teman-teman yang pindah kerja pasti bukan pertama. Awalnya, aku sering sampe ingin menangis, membayangkan gak bisa ketemu setiap hari lagi, tidak mungkin lagi melewatkan Terjebak sendiri dalam suasana sentimentil perpisahan seperti untuk selamanya. Tapi sekarang, setelah tiga, lima, dan lebih banyak lagi perpisahan yang terjadi, rasa itu nggak ada lagi. Sepi karena ditinggal, iya. Tapi sedih, hmm... kenapa harus? Jalan tiap-tiap orang kan ga selalu beriringan.

Sabtu, 03 Mei 2008

Sumur Inspirasi

Lebih dari segalanya, mama adalah sumur inspirasiku.
Belum lama ini, mama pindah dari Semarang ke Jakarta. Sampai sekarang kita belum memutuskan apa kepindahan ini untuk sementara atau seterusnya. Kalau ini berlangsung untuk jangka panjang, ada kemungkinan papa akan menyusul juga. Dan itu berarti kita harus mulai mencari tempat tinggal di kota yang tidak aku suka ini.

Kalau kuhitung, sudah hampir sebulan mama di sini. Sejak dulu mama mengalami banyak cobaan dalam hidupnya. Mulai dari diskriminasi etnis di Aceh waktu peralihan jaman Soekarno ke Suharto, lalu kehidupan rumah tangga yang penuh lika-liku, pindah kota berkali-kali karena alasan ekonomi, juga kerja keras membesarkan ketiga anaknya.

Yang membuatku salut, mama tetap bisa mempertahankan prinsip etika juga kebaikan hati dalam semua kondisi. Biarpun seringkali kesulitan materi membuat orang tak mudah mengekspresikan kepedulian dan bantuan pada orang lain, mama masih tetap bisa melakukannya. Dia bisa begitu jelas membedakan mana yang pantas dilakukan dan mana yang tidak, kapan saat untuk merelakan dan kapan harus menggenggam. Kalau diibaratkan, dia keras seperti karang, tapi juga selembut air.
Aku bangga dan kagum padanya.

Jumat, 18 April 2008

Berikan Telingamu

"Listening is as just important as talking". Kalimat ini yang paling aku suka dari semua bacaanku hari ini. Aku jadi ingat, bertahun-tahun lalu aku pernah berdebat denganmu. Begini kira-kira dialog kita:

"Seni berbicara itu penting, karena dengan begitu kita bisa menyampaikan maksud kita tanpa bikin salah paham," kataku waktu itu.

"Tapi menurutku seni mendengar itu jauh lebih penting," bantahmu.

"Coba bayangin berapa banyak keributan yang sudah terjadi antara temen-temen selama ini gara-gara salah bicara. Itu karena mereka tidak menguasai cara berbicara dengan baik, bagaimana supaya tidak menyinggung perasaan orang lain, bagaimana mencari waktu yang tepat," aku membela diri.

"Ya, tapi jangan salah. Telinga kita ada dua, sementara mulut kita cuma satu. Kenapa begitu? Pasti ada maksudnya. Itu berarti kita harus lebih belajar tentang mendengar daripada bicara," kamu berkata.

Sampai di sini, aku kehilangan kata untuk menyanggah.

Akhirnya kita memasukkan materi "Seni Mendengar" di dalam pelatihan yang kita langsungkan untuk teman-teman, bukannya "Seni Berbicara". Dua tahun kemudian, aku mengadakan pelatihan kecil tentang "Latihan Pidato". Dan aku tahu, setahun kemudian, sebuah pelatihan tentang “Public Speaking” dibuat dan disambut antusias oleh teman-teman kita.

Sekarang, aku setuju padamu. Banyak orang yang ternyata masih harus belajar “mendengar”. Semakin tua, kita semakin tidak bisa mendengar. Telinga kita tersumbat oleh ego dan ketidakpedulian kita. Dua lubang telinga ini tinggal rongga tak berguna. Termasuk juga untuk kita. Kadang kesalahpahaman kecil berbuntut keributan besar, gara-gara kita kurang saling “mendengar”. Aku sering bilang, “Yang kita lakukan hanyalah bergantian bicara.” Bila begitu, aku pun merindukan hari-hari berdebat denganmu, karena setidaknya perdebatan itu membuktikan bahwa kita masih saling mendengar, biarpun tak harus selalu saling setuju.

Senin, 10 Maret 2008

Satu Kisah Cinta












Semua orang punya kisah cinta.
Aku juga punya, bukan satu atau dua.
Ini cuma salah satunya.
Tumbuhnya pun tanpa sengaja.
Tapi kurasa...
Sekarang sulit membayangkan masa bila dia tak ada.
Tak semua orang harus suka.
Bagiku, ini satu kisah cinta.

Angkot, Wajah Kita

Mau berdiri atau duduk, aku sangat menikmati setiap menit yang aku lewatkan di atas angkutan. Kenapa? Karena di angkot kita bisa ketemu banyak orang yang macam-macam. Jadilah, aku punya kebiasaan celingukan di atas roda-roda berputar yang mengantarku ke tempat yang aku mau.

Yang paling suka aku liat kalau ada perempuan muda pake baju modis dan dandanan cantik. Biarpun aku sendiri juga perempuan, buatku perempuan memang pemandangan yang indah. Mereka ini baru saja menjatuhkan tumit di atas angkot sudah langsung membuat semua mata menoleh. Aku sebut saja kelompok Molek.

Masih soal perempuan, ada juga yang bajunya kalem ato sporty tapi tetap indah dipandang. Mereka bukan tipe yang terlalu percaya diri menarik perhatian orang banyak, meski ketika tidak satupun kelompok molek ada di atas angkot, orang-orang pasti ganti menoleh pada mereka. Aku sebut mereka kelompok Cantik.

Trus ada mas-mas yang rata-rata pake kemeja ato kaos. Biasanya mereka nggak begitu mencolok. Aku simpulkan laki-laki yang memilih buat naik angkot itu tipe orang yang gayanya simpel dan sederhana. Pada umumnya mereka baik dan sopan. Soalnya sudah puluhan kali aku ditawari duduk oleh para laki-laki, sementara perempuan bisa sampe saling sirik gara-gara urusan meletakkan pantat. Para laki-laki ini masuk kelompok Adam.

Sisanya adalah bapak-bapak dan ibu-ibu dari yang masih keliatan sehat sampe yang tampak mengkhawatirkan. Aku sering menerka-nerka, apa gerangan yang membuat mereka harus meninggalkan rumah, dan naik angkot yang seringkali nggak ramah ini? Mereka kusebut kelompok Di Atas Umur.

Kadang-kadang ada juga yang penampilan ataupun gayanya nggak cocok buat naik angkot. Misalnya yang pake baju kelewat seksi trus jadi risi sendiri waktu angkotnya penuh, ato yang maunya dapat posisi enak/bersandar/ngerokok di tengah. Aku sebut mereka kelompok Salah Tempat.

Asyik betul mengamati mereka semua. Urusan rambut, tas, baju, juga sepatu bikin aku nggak pernah bosan. Tapi itu dengan catatan aku sendiri nggak lagi buru-buru haha.... Mungkin mereka juga sama, mengamati aku dan orang-orang lainnya.

Tapi pastinya, harus hati-hati sama semua orang. Tadi pagi misalnya, waktu aku berusaha menyelipkan tubuh di antara 2 penumpang menuju pintu belakang bis, secara kebetulan aku liat tangan di dekat ritsleting tasku. Si pemilik tangan rupanya sadar perbuatannya ketauan. Aku liat mas yang berkaos putih itu, menarik tasku, lalu turun. Mas kaos putih itu nggak ikut turun, padahal dia sempat belagak menuju pintu juga. Maap ya mas, belom rejekimu. Eh, memang bukan rejekimu lho.

Aku pulang dulu deh, tentu saja tetap naik angkot. Ada resikonya, tapi rasanya terbayar dengan keasyikannya kok.